Bakteri Berbahaya dalam Susu Formula
Maret 5, 2008
![]()
Si kecil Muhammad Aliftya Zaubarie kini menginjak usia dua tahun. Selain minum air susu ibu (ASI), ia juga diberi susu formula. Sejak umur empat bulan, Alif tak lagi menyusu secara eksklusif pada ibunya, Andriani Astuti. Meski begitu, Andriani tak asal comot susu formula.
Ia terlebih dulu berkonsultasi pada dokter untuk mencaritahu susu mana yang mengandung banyak gizi dan cocok untuk sang bayi. “Susunya cocok, walaupun nggak manis,” ujar Andriani, warga Ciputat, Tangerang, itu. Dalam sebulan, si kecil menghabiskan empat kardus susu, yang beratnya 400 gram per kardus.
Susu itu dikonsumsi Alif hingga berumur satu tahun. Setelah itu, ia beralih ke susu untuk usia setahun hingga tiga tahun. Itu pun dilakukan setelah Andriani berkonsultasi lagi pada dokter. Yang penting, jangan kental. Kebetulan harga susu yang dipilih relatif murah. Selain itu, susunya juga cocok dan tak ada kelainan pada si kecil setelah mengonsumsi susu tersebut.
Susu formula kini menjadi minuman favorit anak-anak. Sejak kecil hingga menginjak usia enam tahun, anak-anak terbiasa minum susu. Bahkan beberapa di antara mereka meneruskan kebiasaan itu hingga dewasa.
Mereka melakukannya karena pada susu tersebut, sesuai dengan kemasannya, berisi sejumlah gizi yang menunjang pertumbuhan. Tapi kebiasaan itu kini harus diwaspadai. Sebab tak semua susu dijamin aman 100%. Paling tidak, itulah hasil penelitian yang dilakukan beberapa peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB).
Peneliti itu adalah Dr. I Wayan T. Wibawan, Dr. Sri Estuningsih, Dokter Hewan Hernomoadi Huminto, dan Dr. Rochman Naim. Dalam jumpa pers, dua pekan lalu, mereka menyebutkan bahwa sebagian susu mengandung bakteri Enterobacter sakazakii (ES). Mereka tertarik menelisik keamanan susu lantaran dianggap sebagai minuman yang mudah dicerna dan dibutuhkan bayi.
Menurut Sri Estuningsih, sebanyak 22 sampel merek susu dan 15 sampel makanan bayi yang dijual di sejumlah supermarket di Bogor dan Depok diambil. Sampel itu dijajakan pada April-Juni 2006. Tak disebutkan merek-merek sampel itu.
Sampel tadi lalu dibawa ke Milk Science, Justus Leipzig University, Giessen, Jerman. “Kami sudah lama menjalin kerja sama dengan universitas itu,” kata Sri. Dari lima bulan penelitian, tiga bulan di antaranya dihabiskan di Jerman. Ini terkait dengan minimnya waktu dan dana.
Ada beberapa tahap yang dikerjakan periset. Tahap pertama, melakukan isolasi bakteri. Setelah ketahuan, bakteri diidentifikasi. Ini untuk mengetahui sifat-sifat bakteri. Lalu menguji 12 isolat bakteri yang diisolasi. Dengan metode sitolisis atau penghancuran sel, diketahui bahwa ES menghasilkan racun.
Dari 12 isolat, separonya mengeluarkan racun setelah dipanaskan. Dari keenam sel ini, lima di antaranya dapat merusak atau menghancurkan sel. Lalu, dengan menggunakan perwarnaan hematoksilin eosin, peneliti menemukan bahwa pada racun murni atau yang sudah dipanaskan, bakteri ES mengakibatkan peradangan saluran cerna, infeksi peredaran darah (sepsis), serta infeksi lapisan saraf pada tulang belakang dan jaringan saraf otak.
Dari situ peneliti berkesimpulan, sebanyak 22,73% dari 22 sampel susu bubuk yang dijual tadi tercemar ES. Selain itu, dari 15 sampel makanan bayi, sebanyak 40% terkontaminasi bakteri yang sama. Bakteri itu dites pada mencit berumur enam hari. Tujuannya, untuk membuktikan tingkat keganasan ES.
Tiga hari setelah mencit itu dicekoki bakteri, lantas diperiksa kesehatannya. “Ternyata mencitnya makin melemah,” ujar Sri. Sel-sel tubuhnya mengalami degenerasi. Ini berarti pertumbuhan si mencit mengalami gangguan. Ini dapat pula terjadi pada manusia.
Hasil studi itu, kata I Wayan T. Wibawan, peneliti yang juga Dekan FKH IPB, sudah dipaparkan di Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Sejumlah pejabat Departemen Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), dan Departemen Pertanian hadir. “Menjadi tanggung jawab banyak pihak menghadapi masalah ini,” kata Wayan. Tapi, sampai berita ini ditulis, belum diketahui hasil pertemuan tersebut.
Hasil penelitian itu tentu mengagetkan. Sebab dipastikan tak sedikit anak-anak yang mengonsumsi susu dan makanan bayi yang dijajakan di supermarket. Susu formula kerap dianggap sebagai makanan pengganti ASI, khususnya untuk ibu yang bekerja atau yang tidak dapat mengeluarkan ASI.
Padahal, bakteri itu tidak tergolong bakteri yang bersahabat alias probiotik. Menurut Dokter Mulya Rahma Karyanti, staf pengajar pada Divisi Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), ES tergolong bakteri berbahaya.
Bakteri itu menyebabkan infeksi darah serta peradangan di selaput otak dan otak. Dapat terjadi di semua usia, terutama pada bayi yang baru lahir. “Hampir 50% kasus terjadi pada bayi yang punya berat lahir kurang dari 2 kilogram, dua pertiganya lahir prematur, dan usia kehamilan si ibu kurang dari 37 pekan,” kata Mulya Rahma Karyanti.
Bayi prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia normal di dalam kandungan, yang biasanya sekitar 39 bulan. Yang memiriskan, kematian akibat infeksi itu menimpa 50% bayi yang baru lahir. Angkanya berkurang menjadi 20% pada bayi berusia dua tahun ke atas.
Mereka bisa sakit karena gampang kena infeksi. Lambung bayi biasanya kurang asam dibandingkan dengan lambung orang dewasa. Tak mengherankan, sistem pertahanan terhadap kuman pun lemah. Keasaman lambung bisa menjadi alat untuk memerangi bakteri.
Karena itu, Karyanti menganjurkan agar ibu memberikan ASI eksklusif untuk makanan bayinya hingga usia enam bulan. Setelah itu, bisa ditambah makanan pendamping ASI. ASI dianggap penting karena nilai gizinya lebih banyak dan tak bisa ditandingi oleh susu formula mana pun.
ASI juga dapat memberikan kekebalan ekstra pada bayi. Lain lagi kata Anis Karuniawati, mikrobiolog pada FKUI. Ia meminta Badan POM menerapkan persyaratan kualitatif maupun kuantitatif tentang kandungan mikroba pada susu formula dan makanan bayi.
Syahlan Siregar, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Makanan Bayi (APMB), mengakui bahwa ia belum membaca hasil studi IPB itu secara lengkap. Karena itu, dalam waktu dekat ia akan menemui peneliti untuk mencaritahu merek-merek apa saja yang bermasalah. Setelah mengetahui secara jelas, pihaknya akan meminta produsen tersebut meningkatkan keamanannya. “Agar lebih ketat lagi,” ujarnya.
APMB beranggotakan produsen susu dan makanan bayi yang punya pabrik di Indonesia. Selama ini, pengamanan proses produksi sudah dilakukan, misalnya dengan memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), serta Badan POM.
Dalam pertemuan World Health Assembly, bakteri itu memang mendapat perhatian serius dari beberapa pejabat kesehatan sejumlah negara. Bahkan menjadi agenda penting karena perkembangan bakteri itu cukup pesat. Syahlan mengatakan, bakteri ES memang bisa terdapat dalam jumlah kecil pada beberapa produk susu formula.
Bakteri ES tak hanya terdapat pada susu formula, melainkan juga pada makanan lain dan beberapa tempat, seperti rumah sakit atau rumah. “Anak-anak yang tak minum susu juga bisa terinfeksi ES,” kata Syahlan.
Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, Dokter Marius Widjajarta, menyatakan, perlu dicari mengapa bakteri ES bisa masuk ke produk susu dan makanan bayi. Ia mempertanyakan, apakah sampel yang diambil itu berasal dari susu kaleng atau susu yang dibungkus lapisan aluminium foil.
Jika pada susu yang dibungkus aluminium foil, itu bisa terjadi. “Mungkin pembungkusnya bocor, tapi tak bisa terlihat secara kasatmata,” ujarnya. Ia mengaku pernah menemukan susu formula yang belum habis masa kedaluwarsanya yang dijual di supermarket ternyata mengandung kutu. Setelah diperiksa, tak hanya sebungkus yang mengandung kutu itu. Ia menduga, itu terjadi karena penyimpanan atau pembungkusan yang kurang baik. Misalnya, asal menumpuk kardus susu hingga melebihi aturan yang dianjurkan.
Aries Kelana, Elmy Diah Larasati, dan Rach Alida Bahaweres
[Kesehatan, Gatra Nomor 16 Beredar Kamis, 28 Februari 2008]
Entry Filed under: blog. Tag: Bakteri, Berbahaya, dalam, Formula, Susu.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Iva | April 7, 2008 at 6:39 am
Saya sepakat ASI lebih baik dari pada susu formula.
2.
chrysna | April 25, 2008 at 5:07 am
menurut saya, kasus ini harus segera ditangani karena susu adalah produk yang banyak dikonsumsi oleh masyaraka, khususnya balita. Bisa kita bayangkan jika hal ini tidak ditelusuri, maka akan semakin banyak korban yang akan terinfeksi. Tapi sekali lagi, kebenarannya harus dikonfirmasi terlebih dahulu, bisa saja ini hanyalah motif untuk menjatuhkan merek susu tertentu.